For Ads

Post Top Ad

ArtikelNgaji Filsafat

Memaknai: Tiga Titik Hitam

Malam meluruh dalam cahaya luna, yang bersinar sempurna, ibu dari cahaya. Beragam kisah dalam benak yang tak kunjung usai. Sejenak beranjak memberi ruang pada kata dan nyawa. Aku yang tak beranjak, hanya men-syukuri dari petak yang sempit kusutnya kehidupan. Membiarkan keindahan menghampiri tubuh yang gigil dalam penantian, bersama asap yang memenuhi rongga paru-paru dan merusakan. Berkaca pada diri; mengartikan tujuan untuk diri yang dilahirkan.

Rasa iri datang menghapiri, kepada ketulusan daun yang ikhlas dijatuhkan oleh angin, bersedia membusuk demi tumbuhnya tunas-tunas baru. Rasa sesal mendatangi silih berganti, kepada diri yang tak jua bisa memberi arti.Tanya sudah bertumpuk hati, mau dikemanakan kaki yang tak menahu lagi tentang arah, mau dikemanakan tangan yang tak lagi tahu berpegang. Mata pun mulai lelah mencari tempat berpandang, saat otak menulak untuk mencerna yang terjadi. Hatipun lelah menentukan rumah untuk dikunjungi.

Aku yang tak beranjak; tak mampu beranjak, terpaku dari ketiak jendela dipukau luna-luna cahaya; Purnama. Dan malam ini aku ingin memuja kepada bulan yang menerangi kelembutanya, menyibak gelapnya malam, mengurai perasaan.. Aku biarkan diri bangkit dari sujud, membelakangi keyakinan yang selama ini hanya sebatas warisan, membiarkan diri lepas bersama punggawa kegelapan, menyatukan diri dalam barisan pasukan kesunyian, menjadi marduk yang akan menghujani jutaan kutuk; Kepada langit yang angkuh hingga memaksa kita tengadah berdo'a dan kepada bumi yang selalu merendah hingga membuat kita tertunduk meminta.

Biarkanlah seseorang bergelimang api-dosa; Sebab dosa yang dihikmati, menjadikan dewasa.

Dihadapan purnama aku mendesau.. Aku tak ingin menjadi hamba yang cengeng, tak ingin mengadu keadaan saat kian rapuh. Menggumam larik syair lama yang menggetarkan eksistensi. untuk hidup yang memang tak akan abadi, untuk hati yang masih mencari.. Mengahapus makna hirarki antara langit dan bumi, membangkangkan dan menolak menghamba. Tak ada Tuhan tak ada hamba berdiri sejajar. Tanpa strata, menyadari dengan sepenuh hati meyakini tentang makna indahnya pembangkangan yang menggetarkan hati. Aku yang tak memiliki apapun, tak juga surga. Tak juga neraka. Aku larut dalam semesta. Ada adalah tiada, dan kekosongan ini bernyawa.

Memaknai tiga titik hitam, hanya sebuah keperibadian, tawa tangis dan luka. Semua terekam jelas dan pecah didalamnya. Mengerti dengan pengertian yang paham. Seorang yang kesepian mencari arti hidup, namun mereka seorang manusia yang tangguh, berdiri sampai akhir hayat bagaikan seorang spartan. Sekilas mungkin ini sebuah kebohongan dan sebuah ironi akan tetapi semua ada pada kenyataan sang manusia yang terus menerus mencari titik terang dalam hidupnya apapun itu caranya. Ketika kebenaran tak lagi bermakna, terus menerus mencari kekosongan diri dengan diri sendiri, bukan orang lain, apalagi sebatas warisan.

Related Posts

2 komentar:

Post Bottom Ad