For Ads

Post Top Ad

Pesan

Sebuah Pesan Yang Terabaikan: Kinanti #3

Jujur, hari ini aku sangat rindu. Merindukan hal-hal yang sudah berlalu, tapi tidak akan mungkin bisa terlupakan. Orang-orang menyebut hal yang tidak bisa terlupakan itu sebagai “kenangan”. Tapi bagi ku itu lebih dari sebuah kenangan, bagi ku itu adalah surga tersendiri. Surga yang mampu menyunggingkan senyum di wajah dan hati ku, kapanpun aku teringat hal-hal yang tidak terlupakan tersebut. Untuk mengobati rasa kegaduhan ini, ku nyalakan laptop dan menyalurkan lewat tulisan ini.

Telah jauh aku tempuh gigilnya perjalanan berkunjung dan berhenti disetiap keramaian. Mencari rumah baru sejenak berlabuh. Menua dalam waktu; Menunggu. Malam ini aku terjaga, aku kira aku mendengar notif pesan dari smartphone ku. Pesan-pesan sederhana, candaan, bahkan saat kau cemburu pun membuat mood hariku menjadi terjaga.. Ah, sialan! aku tak bisa membedakan antara sebuah khayalan dan kenyataan.

Mengisi cangkir dengan pekatnya kopi, mengenyahkan ketakukan akan mimpi-mipi, mencoba mencari cara. Mengenyahkan bau parfummu dari lengan jaketku, mematikan rasa jemarimu disela rambutku, menulikan telingaku dari lembutnya suaramu, aku melenggekan kepala, Ah, bahkan saat aku memaksa menutup mata, yang ada bukanlah gelap. Tapi senyummu, wajahmu, tubuhmu, adanya dirimu dan aku tau saat aku ingin melupakanmu, segala indera tubuh menghianatiku.

Untuk mu, Kinanti. Aku ingin segera pulang, merebahkan lelah dihatimu yang rumah, dipelukmu aku ingin dewasa dan menua, meneduhkan segala lelah dan luka. Disampingnya aku ingin menemani, menemani berbagi kisah-kisah sepi, menggurai simpul-simpul kehidupan yang letih, mengungkapkan segala sekat-sekat hati, saling berbagi bahu sebagai pengganti tissue, lalu kepadanya aku ingin ulurkan jemari, untuk sejenak dia raih dan genggam menguatkan..

Dengan sepenuh hati aku ingin meyakinkan bahwa walaupun senyumnya yang ramah tak pernah sedetikpun aku nikmati, bahwa aku hanyalah lelaki yang dipenuhi segala ketidak mampuan, yang tak punya kemewahan untuk membeli senyumanmu. Tapi hanya bisa menjanjikan untuk tetap disini dan tak akan pernah meninggalkan. Tuhan, pada akhirnya aku masih menunggu, bertanya-tanya apa yang bisa aku lakukan untuk membuat takdirmu tertarik.  Gemitang itu yang kan kupetik, atau lajur hujan yang harus kutarik?

Oh iya, Kinanti! Sekarang aku sudah berhenti merokok, jarang bergadang hingga larut, malah kebanyakan tidur. Rajin menabung, beribadah serta makan pun sudah teratur.. Dan semoga kamu membaca pesan yang kelewat sederhana, ini.


Jakarta Utara, Oktober 2019 (03:24 AM)

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad